
Sumber: http://issuu.com/deny_bpost/docs/bp20081224/4
(klik pada gambar untuk memperbesar)
PRINSIP kejujuran sangat dijunjung tinggi oleh panitia "Telkom-FIKS XV/2008" kali ini. Maka, panitia tidak menorelansi ketika terjadi pencurian umur. "Karena masalah ini, kami dengan sangat terpaksa mendiskualifikasi seorang peserta dari Kalimantan," kata ketua panpel Gandjar Nugraha.
Menurut Gandjar, keputusan tersebut sangat berat, apalagi si petenis berinisial MRA tersebut sudah berada di Bandung. "Namun, kami dengan berat hati mengeluarkan keputusan diskualifikasi untuk menyelamatkan peserta lainnya. Sebelumnya, kami sudah tegaskan tidak akan memberi kelonggaran kepada pencurian umur," ujar Gandjar.
Keputusan tersebut diambil setelah melihat data-data yang sangat valid. Menurut Gandjar, pemain yang terkena diskualifikasi sehari menjelang kejuaraan ini digelar, merupakan juara KU-12 pada 2006. "Saat itu, banyak yang curiga bahwa umur dia sebenarnya lebih dari 12 tahun. Namun, pada akta kelahiran dan rapor, tertulis dia lahir pada 1994," kata Gandjar.
Gandjar yang juga merupakan ketua panpel pada saat itu, menindaklanjuti kecurigaan tersebut dengan menanyakan kepada rekan-rekannya di Bontang. "Saya kan pegawai Telkom. Saya minta pegawai Telkom di sana (Kalimantan) untuk mencari tahu. Mereka menilai ada sedikit keganjilan," ujarnya.
Namun, kemudian keluar surat dari Diknas di sana bahwa si petenis tersebut lahir pada 1994. "Walau sedikit ragu, kami memercayai surat tersebut. Namun, kami tidak menyerah. Saya bawa si petenis ke laboratorium untuk diperiksa dan saya juga meminta dia untuk menulis surat pernyataan bahwa dia memang benar-benar lahir pada 1994," kata Gandjar.
Pada 2007, si petenis tidak mengikuti kejuaraan ini. Dia kembali muncul pada 2008 ini dan mengikuti KU-16. "Ketika melihat akta kelahiran dan rapor, tertulis dia lahir pada 1993. Saya kemudian teringat kembali peristiwa 2006 dan meminta Pak Sarjono (rekan Gandjar) untuk kembali melihat arsip 2006," ujarnya.
Setelah dicocokkan, terlihatlah perbedaan tersebut. "Dia memang kelahiran 1993 sehingga pada 2006 usianya sudah melebihi 12 tahun. Saya sudah melaporkan masalah ini ke Pelti. Mengenai hukuman atau yang lainnya, saya sudah serahkan kepada Pelti," kata Gandjar.
Sebenarnya, kata Gandjar, keikutsertaan si petenis pada tahun ini tidak masalah. "Hanya, dia memiliki sejarah dalam hal pencurian umur sehingga kami mengeluarkan keputusan tersebut," ujarnya.
Menurut Gandjar, akar permasalahan dari semua ini adalah menginginkan prestasi dengan cara-cara yang tidak benar. "Saya tidak yakin, si petenis tersebut yang menginginkan agar usianya dimudakan. Pasti ada orang yang lebih tua dan mengerti, yang meminta agar dia main di KU-12 walau usianya sudah lebih," kata Gandjar.
Kini, si petenis yang justru menanggung akibatnya. "Dari lubuk hati, saya sebenarnya sangat kasihan dengan anak tersebut. Sudah jauh-jauh datang ke Bandung, malah terkena masalah. Namun, aturan harus ditegakkan, tidak pandang bulu," ujarnya.
Gandjar berharap, kejadian serupa tidak akan terulang lagi pada masa yang akan datang. "Semua yang terlibat dalam pembinaan olah raga, khususnya tenis harus saling menghargai. Tidak menggunakan cara-cara kotor untuk meraih prestasi karena yang akan menjadi korban anaknya sendiri," kata Gandjar.
Gandjar berharap, setiap pembina dan petenis yang tampil pada kejuaraan ini tetap menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas yang menjadi fondasi utama olah raga. (Asep/"PR")***
KURSI wasit kosong saat pertandingan antara Arif Munandar dari Bekasi dan Doni Rusman dari Bantul (tidak terlihat) pada Turnamen Tenis FIKS di Lapangan Tenis Taman Maluku Bandung, Senin (22/12).* ANDRI GURNITA/"PR" PANITIA kejuaraan nasional tenis junior "Telkom-FIKS XV/2008" membuat terobosan besar dengan memutuskan tidak menggunakan wasit pada babak awal hingga perempat final pertandingan KU-14 dan KU-16.
Jadi, jangan heran jika Anda menyaksikan pertandingan, ada pemain yang berteriak out (keluar) jika bola memantul di luar lapangan dan atau fault jika lawannya melakukan kesalahan.
Tidak ada wasit yang duduk di kursi tinggi di pinggir lapangan atau penjaga garis yang mengawasi setiap jatuhnya bola di permukaan lapangan. Bahkan, tidak ada ball boy sehingga setiap petenis yang tampil harus memungut bolanya sendiri.
Sebenarnya, aturan ini sudah lumrah dilaksanakan di turnamen kelompok umur bahkan untuk senior khusus turnamen satelit di luar negeri. Namun, ini untuk pertama kalinya digelar dalam sebuah kejuaraan berskala nasional di Indonesia.
Idenya antara lain datang dari ketua panpel Gandjar Nugraha. Menurut Gandjar, Indonesia memiliki segalanya, dari sumber daya alam yang melimpah, hingga sumber daya manusia yang tidak diragukan lagi kualitasnya. Jadi, apa yang sebenarnya kurang dari Indonesia? "Kejujuran," kata Gandjar.
Kata yang satu ini memang sangat mudah diucapkan, namun sulit dilaksanakan. Padahal, dengan kejujuran, Indonesia diyakini bakal menjadi bangsa yang maju di segala bidang. Dengan kejujuran, tidak akan ada lagi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Indonesia tidak perlu lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Gandjar baru sadar ketika ditanya apakah keputusannya tersebut bersinergi dengan kegiatan antikorupsi dan mulai digalakkannya kantin kejujuran di beberapa sekolah, terutama SMP dan SMA, belakangan ini.
"Sebenarnya, tidak ada hubungan langsung dengan kedua kegiatan tersebut. Saya sendiri baru menyadari itu. Namun, jika kegiatan ini juga dikatakan bersinergi dengan kegiatan antikorupsi, saya sangat berterima kasih. Tujuannya memang sama, yaitu menanamkan nilai-nilai kejujuran dan sportivitas," ujarnya.
Dalam olah raga, kejujuran tersebut bisa berbentuk sportivitas antara lain mengakui ketangguhan lawan dan tidak berbuat curang. Namun, tidak berarti seorang pemain terus berdiam diri setelah dikalahkan lawan. Dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menyaingi lawan bahkan mengalahkannya.
"Kalau jiwa sportif ada di setiap orang, olah raga Indonesia akan maju. Menggelar kejuaraan tenis tanpa wasit merupakan langkah awal untuk membentuk jiwa sportif dan kejujuran sejak dini," kata Gandjar.
Gandjar sebenarnya sudah mulai menyosialisasikan pertandingan tenis tanpa wasit ini dua tahun lalu. Namun, ketika itu, banyak yang menentang, baik dari petenis sendiri dan orang tuanya, bahkan pengurus tenis sendiri. "Memang rada ribet. Saya akui, akan banyak masalah karena ini baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Banyak orang yang belum paham. Namun, bila tidak dilaksanakan sekarang ini, kapan Indonesia memulainya," kata Gandjar.
Menurut Gandjar, kejujuran dan jiwa sportif harus ditanamkan sejak dini. "Kita sebagai orang tua harus membiasakan anak dengan sportivitas ini. Untuk diterapkan pada kejuaraan ini, memang banyak risikonya, terutama bagi panpel, namun kami tetap harus melakukannya dengan perkembangan tenis Indonesia," kata Gandjar.
Apa yang dilakukan Gandjar juga mendapat dukungan dari Pelti. "Dukungan Pelti luar biasa. Bahkan, mereka membuat rambu-rambu bagi petenis yang tidak sportif hingga dikurangi poinnya untuk PNP. Saya kira, itu apresiasi dari Pelti yang sangat bagus," ujarnya.
Keputusan Gandjar juga mendapat dukungan dari mantan petenis Jawa Barat dan nasional Sulityo Wibowo. Bahkan, Sulis mengatakan, di luar negeri, pemain tidak hanya harus jujur, juga harus mandiri. "Saya sempat merasakannya ketika mengikuti turnamen di Spanyol," ujar Sulis.
Menurut Sulis, dia dan lawannya dipanggil untuk segera bertanding. Petugas pertandingan hanya menyerahkan tiga bola dan mereka dipersilakan bertanding di lapangan tertentu. "Lapangan yang digunakan jenis gravel. Karena lapangan sudah kering, saya dan lawan saya harus menyiram lapangan. Kalau di Indonesia, apa mau seorang petenis menyiram lapangan yang akan digunakan untuk bertanding?" ujar Sulis.
Panitia juga baru menyediakan wasit untuk semifinal dan final. "Itu pun hanya wasit, tidak ada ball boy. Petenis sendiri yang memungut bola. Jika sudah selesai, pemain yang menang menyerahkan bola kepada panitia sekaligus melaporkan hasil pertandingan," kata Sulis.
Namun, panpel sebenarnya tidak begitu saja melepas setiap pertandingan. Panpel tetap menyiapkan pengawas pertandingan sebagai "mata-mata". "Tugasnya memang tidak formal seperti wasit. Namun, pengawas tetap akan mengawasi pertandingan dan menjadi penengah jika terjadi perselisihan. Bahkan, pengawas ini bisa membuat keputusan seperti apakah seorang petenis melakukan pelanggaran atau tidak," kata referee Eko Supriatna.
Hingga pertandingan digelar Selasa kemarin, belum ada peristiwa yang menghebohkan. "Alhamdulillah semua berjalan lancar. Karena, pada dasarnya anak-anak itu jujur. Mungkin karena ada tekanan, mereka kemudian berbuat curang," kata Eko.
Biasanya, orang tua dan pelatih yang sering melakukan protes. "Justru, orang dewasalah yang sering berulah. Si anak sebenarnya tidak apa-apa, malah orang tua yang protes. Hal seperti ini sempat terjadi pada Senin lalu," ujar Eko.
Kejujuran memang harus diperjuangkan di negeri ini. Perlu kerja keras dan dukungan semua pihak yang terkait dengan perkembangan tenis. Apa yang dilakukan panitia Telkom-FIKS baru suatu langkah kecil untuk perubahan yang sangat besar, tidak saja bagi dunia tenis dan olah raga, juga bagi seluruh aspek kehidupan.
Anak-anak yang masih lugu harus diberi pemahaman tentang kejujuran, tidak hanya di bidang olah raga lebih khususnya tenis. Namun, faktor orang dewasa juga sangat menentukan.
Mari kita wujudkan kejujuran di semua aspek kehidupan, tidak hanya di bidang olah raga. (Asep/"PR")***
| Sumber: http://klik-galamedia.com/indexedisi.php?id=20081218&wartakode=20081218131846 Kamis, 18 Desember 2008 |
| JLN. AMBON,(GM)- |
| Berbeda dengan sebelumnya, penyelenggaraan Turnamen Tenis Junior Nasional Telkom-FIKS XV/2008 di Bandung, pada 22-27 Desember mendatang dipastikan tidak akan dipimpin wasit. Demikian disampaikan Ketua Panpel, Ganjar Nugraha kepada wartawan di Lapangan Tenis Taman Maluku, Jln. Ambon No. 2 Bandung, Rabu (17/12). Menurutnya, terobosan pertandingan tanpa wasit merupakan yang pertama kali di Indonesia, termasuk 14 kali penyelenggaraan Telkom-FIKS setiap tahunnya. Terobosan tersebut juga telah disetujui PB Pelti. "Rencana pertandingan tanpa wasit sudah kami sosialisasikan sejak dua tahun lalu. Hanya saja pelaksanaannya baru sekarang. Yang pasti banyak yang menentang dari peserta, tetapi kami mencoba ikut menerapkan aturan ITF (Federasi Tenis Internasional), tentang pelaksanaan kejuaraan tenis junior. Bahkan hal seperti ini sudah dilakukan di Singapura, Amerika Serikat, dan Australia," jelas Ganjar. Dari tiga kelompok usia (KU) yang dipertandingkan, yang tidak akan dipimpin wasit, yaitu KU-14 dan KU-16 tahun. Sementara KU-12, tetap menggunakan wasit. Meski tanpa wasit, panpel bukan berarti lepas tangan. Karena nantinya walaupun pemain akan menghitung sendiri dan menerapkan aturan di lapangan, tapi tetap diawasi pengawas pertandingan. Kalau pada pelaksanaannya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, tentu akan kita evaluasi pada partai berikutnya. Kendati tidak akan dipimpin wasit , dari data panpel hingga kemarin, tercatat sekitar 185 petenis dari berbagai daerah, termasuk Papua dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) untuk di KU-14 dan KU-16 tahun telah mendaftar. Sementara untuk KU-12, jumlah peserta mencapai 139 petenis. Pertandingan akan dilangsungkan di 26 lapangan yang tersebar sebanyak 11 lokasi di Kota Bandung. Panpel juga sudah menyiapkan lapangan indoor di Lapangan Tenis Indoor Telkom dan Cipaganti. (B.94)** |
| Sumber: http://219.83.122.194/pro3rri2/index.php?option=com_content&task=view&id=12274&Itemid=46 |
| Senin, 22 Desember 2008 15:19 | |
| Regulasi pertandingan tanpa wasit diterapkan dalam turnamen tenis yunior Telkom FIK'S yang dimulai hari ini hingga 27 Desember di Bandung Jawa Barat. Turnamen ini sebenarnya bukan kali pertama digelar karena sudah memasuki tahun ke-15 penyelenggaraan. Namun soal penerapan peraturan inilah kali pertama di Indonesia sebuah turnamen yang masuk agenda resmi Pelti menerapkan regulasi tanpa wasit. Seperti diungkapkan Ketua turnamen, Gandjar Nugraha regulasi ini hanya akan diterapkan pada dua dari tiga nomor kelompok umur yakni KU 14 dan KU 16. Penerapanya sendiri hanya akan dilakukan hingga babak perempatfinal. Lebih lanjut Gandjar mengungkapkan penerapan regulasi ini didorong keinginan membina para pemain muda untuk belajar jujur kepada diri sendiri dan orang lain. Kebijakan ini bukan tanpa resiko, sebab jumlah peserta mengalami penurunan dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya. Untuk penyelenggaraan tahun ini, menurut Gandjar tercatat lebih dari 200 petenis meramaikan turnamen di Lapangan tenis outdoor Taman Maluku, Kota Bandung. Para petenis ini akan bersaing menjadi yang terbaik di KU 12, KU 14 dan KU 16. (Agus Rusmin Nuyadin/LD) |
Berikut nama-nama juara di KEJUARAAN TENIS YUNIOR NASIONAL TELKOM-FIKS 2008:
Juara RIZKI BAGUS SAPUTRA (SMG)
Runner Up REYNALDI PRASETYO (BDG)
Semi Finalis WISNU ADI NUGROHO (TGL) / EKY HAMZAH (PML)
Juara NADYA SYARIFAH (CJR)
Runner Up NATHANIA RATIH (SKA)
Semi Finalis KELY RESTIANA PUTRI (DKI) / ALDILA SUTJIADI (DKI)
Juara KEVIN LAKE KE WEI (MAS)
Runner Up M RISKY WIDIANTO (SBY)
Semi Finalis TYO JULIAN (BDG) / RENDY ADITYA CAHYADI (BDG)
Juara EVITA FEBRI HAPSARI (GRB)
Runner Up INDUN SYAFAATI (KDS)
Semi Finalis WOYLA WALUYO (DKI) / MEGAWATI (KDS)
Juara DANIEL SANGER (SULUT)
Runner Up ANTHONY (SMG)
Semi Finalis PRASETYO NUGROHO (PKL) / WESLEY RIANTA (SMD)
Juara HANIFAH NUR HASANAH (BTL)
Runner Up DERIA NUR HALIZA (PWD)
Semi Finalis ARUM DAMARSARI / KHARINA PUTRI SARI (SMG)
Juara
JASON JOEY ALEXANDER (DKI)
JEREMI RYAN ALEXANDER (DKI)
Runner Up
EKKY HAMZAH (PML)
NYOMAN CAHYADI (
Semi Finalis
REYNALDI PRASETYO (BDG)
RIZKI BAGUS SAPUTRA (BDG)
&
ALFONSO RIANTA BANGUN (MDN)
DONI RUSMAN TEJA (BTL)
Juara
TRIA RIZKI AMALIA (CJR)
NADYA SYARIFAH (CJR)
Runner Up
NATHANIA RATIH KP (SKA)
JESSIE FELISIA P (SKA)
Semi Finalis
PUSPA RATIH T (PTK)
VANESA WIRATAMA (BDG)
&
KELY RESTIANA P (DKI)
ALDILA SUTJIAJI (DKI)
Juara
ARIEF RAHMAN (BTNG)
M RISKI WIDIYANTO (SBY)
Runner Up
FREDERICA L R (DKI)
AHMAD MAULANA (TRK)
Semi Finalis
M RIZKY P (BTL)
BURHANANDRA DWI (BTL)
&
M NOOR HUSAINI (KTM)
WILIAM WINATA (BDG)
Juara
EVITA FEBRI H (GRB)
EFRILIYA HERLINA (TRGK)
Runner Up
MEGAWATI Y (KDS)
DEVI HASAN (DKI)
Semi Finalis
RETNO OCTAVIYANI (Kaltim)
SILVY AYU (Kaltim)
&
MP SETYORINI (KDS)
INGRID YUNIAR S (KDS)
Juara
ARTHUR MARULI HUTABARAT (DPK)
DANIEL SANGER (Sulut)
Runner Up
ALI HASYIM (Kalsel)
PRAYOGA AHMADI (DKI)
Semi Finalis
PRIBADI IMAM FEISAL (BDG)
WILDAN A GHAZI (BDG)
&
RIZKY ZAMY FEBRIAN L (SMD)
WESLEY RIANANTA (SMD)
Juara
KA ISNA YATUL (NGW)
DERIA NUR HALIZAH (PWD)
Runner Up
AINUL KHUSNA (KDS)
KHARINA PUTRI S (SMG)
Semi Finalis
HANIFAH NUR H (BTL)
OKTAVIA AYU (BTL)
&
ARRUM DAMAR SARI (TGL)
RASITA WIDIYA A (TGL)
SELAMAT KEPADA
Rabu, 24 Desember 2008
Bandung, TELKOM-FIKS
Memasuki hari ketiga penyelenggaraan Kejuaraan Tenis Yunior Nasional TELKOM-FIKS 2008, seorang pemain mengundurkan diri. Jika pada hari pertama panitia melakukan diskualifikasi terhadap pemain yang dianggap tidak jujur maka pada hari ketiga siang ini seorang pemain dengan sukarela mengundurkan diri dari kejuaraan ini.
Menurut pemain tersebut, ia memilih mundur dari pada didiskualifikasi oleh panitia, “Saya rela mundur dari kejuaraan ini, dan saya tidak tahu kalau telah melakukan kecurangan. Saya datang ke Bandung hanya ditugaskan untuk main oleh pembina, selebihnya soal administrasi dan kelengkapan dokumen, pembina saya yang mengurusnya,” kata pemain dari Kalimantan Selatan ini.
Menanggapi kejadian ini, ketua panitia penyelenggara Kejuaraan Tenis Yunior Nasional TELKOM-FIKS 2008, Gandjar Nugraha, menyatakan salut atas kejujuran pemain ini. Menurutnya hal ini dapat menjadi contoh yang baik bagi peserta lainnya. Ketika sebagian masih bersikap tidak jujur, pemain ini justru memulai pengakuan bahwa dokumen yang diserahkan kepada panitia tidak sesuai dengan kenyataan. “Terlepas dari batalnya yang bersangkutan bertanding, kami panitia sangat appreciate terhadapnya. Ternyata anak ini memilih bersikap jujur,” ujar Gandjar.
Gandjar berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk para pembina petenis yunior. Peran masyarakat tenis sangat menentukan karena menurutnya panitia mempunyai keterbatasan, terutama menyangkut data pemain. Untuk itu, yang bisa dilakukan oleh panitia adalah melakukan tindak lanjut setelah adanya pengaduan yang masuk. ”Bukan berarti kita tidak proaktif. Ini semata-mata hanya keterbatasan kami, terutama menyangkut data pemain. Bila tidak ada masukan kita akan sulit mendeteksi pemain,” tambahnya lagi. Untuk itu sekali lagi ia berharap peran serta dukungan dari semua pihak untuk suksesnya penerapan nilai kejujuran dalam olah raga tenis ini. (TF)
Foto: A. Dody Firmansyah

Bandung, TELKOM-FIKS
Rabu, 24 Desember 2008
Bandung, TELKOM-FIKS
Turnamen Tenis Yunior Nasional TELKOM-FIKS 2008 yang mempertandingkan KU 12, 14, dan 16 yang penyelenggaraannya dilaksanakan di Bandung sudah memasuki hari ketiga. Dari dua hari penyelenggaraan secara teknis tidak ada masalah jikapun ada masalah yang muncul hal ini diluar kemampuan panitia yakni faktor cuaca. Akan tetapi masalah ini bisa segera diantisipasi oleh panitia dengan memaksimalkan setiap lapangan indoor yang ada di Bandung. ”Hari ini kita coba optimalkan lapangan indoor yang ada di Bandung, walaupun dengan risiko muncul biaya tambahan, tapi bagi panitia ini adalah bentuk pelayanan terbaik yang ingin diberikan buat peserta” ujar Ketua panitia kejuaraan, Gandjar Nugraha.
Turnamen yang telah menjadi calendar of event PB Pelti ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas atlet tenis yunior di tanah air sekaligus sebagai ajang evaluasi terhadap pembinaan yang selama ini dilakukan. Tahun ini penyelenggara mengusung tema kejujuran.
”Sebagai salah satu upaya untuk melatih kejujuran, kami harus menerapkan aturan, salah satunya dengan melakukan verifikasi tahun kelahiran peserta sehingga setiap calon peserta wajib menyertakan akte kelahiran atau rapor atau KTA Pelti pada saat sign-in,” ujar Referee TELKOM-FIKS 2008, Yayan Rubaeni.
Tidak hanya peserta, penyelenggara pun harus mengikuti aturan yang berlaku. ”Setiap calon peserta yang tidak dapat menunjukkan bukti untuk verifikasi tahun kelahiran, maka ia tidak dapat mengikuti turnamen ini,” tambah Yayan.
Pihak penyelenggara pun mendukung langkah tersebut. Ada beberapa peserta yang batal mengikuti turnamen ini karena tidak dapat menunjukkan akte kelahiran atau rapor. ”Sebagai penyelenggara hitungannya kami rugi jika peserta berkurang. Tapi sebagai sarana melatih kejujuran kami harus konsekuen menerapkan itu. Bahkan hingga ada yang didiskualifikasi karena pelanggaran usia,” kata Ketua Panitia TELKOM-FIKS 2008, Gandjar Nugraha.
Gandjar menambahkan diskualifikasi yang dilakukan semata-mata ingin mendidik pemain muda ini untuk bersikap jujur ”dengan sangat terpaksa kami lakukan diskualifikasi karena yang bersangkutan kita anggap sudah bersikap tidak jujur dengan memasukan dokumen yang berbeda”, ucap Gandjar.
”Pelanggaran usia atau apapun yang bersifat kecurangan, hal itu merupakan suatu bentuk pencederaan atas kejujuran, sportifitas, dan nilai-nilai yang notabene harus ditanamkan dan dilatih sejak dini kepada atlit-atlit junior,” kata Asisten Referee TELKOM-FIKS 2008, Eko Supriatna. Hal itulah yang sangat ditekankan oleh Turnamen Tenis Yunior Nasional TELKOM-FIKS 2008 ini.
”Untuk kasus pelanggaran usia hingga diambil tindakan diskualifikasi, penyelenggara hanya melaksanakan surat pernyataan yang telah dibuat oleh yang bersangkutan sebagai tindak lanjut protes dari orang tua pemain pada turnamen yang sama di tahun 2006 lalu,” kata Sekretaris TELKOM-FIKS 2008, Sardjono. ”Sebagaimana disanggupi oleh yang bersangkutan pada surat pernyataannya dua tahun yang lalu, sanksi tersebut dijatuhkan karena ditemukan ketidakcocokan data dalam akte kelahiran yang bersangkutan yang dilampirkannya pada tahun 2006 lalu dan akte kelahirannya ketika mendaftar di tahun 2008 ini,” tambah Sardjono.
”Diharapkan turnamen ini dapat menjadi pelajaran bagi yang bersangkutan dan seluruh atlit tenis lainnya agar lebih menjunjung tinggi nilai-nilai dalam olah raga sejak usia dini,” ujar Bendahara TELKOM-FIKS 2008, Istiono.
Untuk menerapkan kejujuran, penyelenggara berharap agar kasus-kasus seperti ini tidak berhenti sampai sanksi dari turnamen saja. Sebagai upayanya, penyelenggara akan meneruskan hal ini kepada PB Pelti untuk ditindaklanjuti lebih lanjut sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi yang melakukannya dan semua pihak yang turut andil dalam melakukan pembinaan olah raga tenis di tanah air dapat menerapkan kejujuran sebagai salah satu esensi sportifitas. Semoga. (TF)
BANDUNG, (PRLM).-Petenis putri andalan Jabar yang bertanding di kelompok umur (KU) 16 tahun, Tria Rizki Amalia (Bandung) maju ke perempat final setelah mengalahkan Claudia Michele (DKI), 6-0, 6-0 pada Kejuaraan Nasional Tenis Junior "Telkom-FIKS XV/2008" di Lapangan Tenis Dago Pakar, Bandung, Selasa (23/12).
Selanjutnya, Tria bertemu petenis Jabar lainnya yang menempati unggulan keempat Nadya Syarifah (Cianjur) yang menang atas Maulina Getari (Bandung), 6-0, 6-1.
Kejutan terjadi pada KU-16 putri. Dua petenis unggulan tersingkir pada babak keuda. Unggulan kedelapan asal Surakarta Puspa Ratih dikalahkan Cyntia Wibawa (DKI), 4-6, 6-4, 8-10. Selanjutnya, Cyntia di perempat final bertemu unggulan ketiga asal DKI Kely Restiana Putri yang menang atas Jessie Felisia Pakaya, 6-0, 6-0.
Unggulan kelima asal DKI Asifa Ramdani dikalahkan Vita Taher (Bekasi), 1-6, 1-6. Selanjutnya, Vita di perempat final bertemu unggulan kedua asal DKI Aldila Sutjiadi yang menang atas Prima Lestari (Cirebon), 6-3, 6-3.
Sementara itu, hujan yang mengguyur Kota Bandung sepanjang hari Selasa menyebabkan beberapa pertandingan ditunda. KU 14 tahun putra yang bertanding di Lapang Tenis Pussenif dan Kodiklat TNI AD ditunda. Begitu pula dengan KU 14 tahun putri di Lapang Tenis Gedung Sate dan KU 12 tahun putri di Lapang Tenis Telkom Divre III dan Ditajenad.
Sedangkan, KU 12 tahun putra yang semula digelar di Lapang Tenis Bumi Sangkuriang dan Cipaganti dipindah ke Lapang Tenis Indoor Telkom Gerlong. Begitu pula dengan KU 16 tahun putra yang semula di Lapang Tenis Taman Maluku dipindah ke Lapang Tenis Indoor Dago Pakar.
Dengan begitu, hari kedua kejuaraan hanya mempertandingan KU 16 tahun putra putri dan KU 12 tahun putra. Sedangkan, KU 12 tahun putri dan KU 14 tahun putra putri ditunda. (A-115/A-50)***
BANDUNG,SELASA-Hari kedua Kejuaraan Nasional Tenis Yunior Telkom-FIKS 2008 di Bandung, Selasa (23/12) terkendala hujan. Akibatnya, jadwal pertandingan di lapangan tenis outdoor tidak dapat dilaksanakan.
Kejurnas yang diikuti lebih dari 300 petenis usia 12,14, dan 16 tahun ini dilaksanakan di 11 lokasi di Bandung dan kebanyakan merupakan lapangan tenis outdoor . Hujan yang turun sejak Senin malam berlanjut hingga Selasa pagi. Hujan sempat reda tetapi kembali turun sekitar pukul 14.00. Lapangan tidak dapat dikeringkan hanya dengan mengandalkan peralatan yang ada, kata panitia.
Meski demikian, pertandingan harus tetap dilaksanakan. Sebagai jalan keluar, panitia memindahkan beberapa pertandingan ke lapangan tenis indoor, antara lain lapangan tenis Siliwangi, Dago Pakar, dan Telkom Gegerkalong.

Selasa, 23 Desember 2008
Bandung, TELKOM-FIKS
Selasa, 23 Desember 2008
BANDUNG (Suara Karya): Untuk pertama kalinya, Kejuaraan Tenis Usia Dini Telkom FIKS 2008 Flexi Open di Kota Bandung digelar tanpa wasit pertandingan dan penjaga garis, Senin (22/12). Pertandingan tenis tanpa wasit itu khusus untuk kelompok umur 14 tahun dan 16 tahun, sedangkan untuk kelompok umur 12 tahun tetap menggunakan wasit pertandingan lengkap dengan ballboy dan penjaga garis.
"Pertandingan tanpa wasit ini sudah direncanakan sejak dua tahun lalu, namun baru pada 2008 ini dilaksanakan. Tujuannya untuk menanamkan kejujuran dan sportivitas kepada para petenis muda," kata Ketua Panpel Telkom FIKS 2008, Ganjar Nugraha.
Para petenis kelompok umur 14 dan 16 tahun langsung menggelar pertandingan dengan menjadi wasit untuk dirinya sendiri, sedangkan petugas lapangan hanya bertindak sebagai pengawas pertandingan saja.
Sementara itu, sejumlah spanduk tentang kejujuran dipasang di sekeliling lapangan, antara lain bertuliskan "Junjung Tinggi Kejujuran Sejak Dini", "Fair Play dalam Pertandingan dan Jujur dalam Kehidupan".
"Pertandingan kelompok 12 tahun masih memakai wasit karena masih banyak yang belum tahu hitungan dan peraturan pertandingan. Terobosan pertandingan tanpa wasit itu untuk menanamkan dengan baik pengetahuan mengenai semua aturan permainan kepada petenis muda," kata Ganjar.
Namun, mulai perempatfinal, pertandingan sudah akan menggunakan wasit dan penjaga garis secara lengkap. "Mekanisme protes diselesaikan di antara mereka sendiri. Hal ini sudah diterapkan di luar negeri," katanya.
Sementara itu, Kejuaraan Tenis KU Telkom FIKS 2008 Flexi Open dibuka oleh Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng dengan jumlah peserta sebanyak 377 atlet, yakni KU 12 tahun 160 orang, 14 tahun 125 orang, dan 16 tahun 92 orang.
Pertandingan digelar di sebelas lapangan pertandingan, yakni di Lapangan Tenis Taman Maluku, Siliwangi Indoor, Bumi Sangkuriang, Cipaganti, Telkom, Kodiklat, Diajenad, Telkom Divre III, Gedung Sate, Pusenif, dan Lapangan Tenis Dago Pakar.
Kejuaraan tenis kelompok umur itu akan berlangsung dari 22 hingga 28 Desember 2008 mendatang. (Ant)
Ada dua hal baru dalam Kejuaraan Tenis Yunior Nasional Kelompok Umur Telkom-FIKS Flexi Open, 22-27 Desember 2008 ini, memasuki tahun ke-15. Turnamen yang biasanya diberi nama FIKS-Telkom berubah menjadi Telkom-FIKS. Selain itu, tidak ada wasit dalam babak penyisihan kelompok 14 dan 16 tahun.
Bermain tanpa wasit merupakan tantangan berat bagi para petenis yunior itu. Secara teknis, mereka perlu bekerja ekstra karena harus melakukan bagian yang biasanya dilakukan wasit. Namun, secara moral, tidak adanya wasit membuka peluang bagi petenis mencari keuntungan terkait poin pertandingan.
Sesungguhnya kejuaraan tanpa wasit tidak sepenuhnya baru. Setidaknya ini sudah diterapkan dalam pertandingan tenis Sabtu-Minggu (persami) yang rutin digelar pegiat tenis Ferry Raturandang.
"Namun, untuk kegiatan yang masuk kalender Pelti, Telkom-FIKS menjadi kejuaraan pertama yang tak menggunakan wasit," ujar sekretaris panitia Sardjono.
Di kelompok umur (KU) 12 tahun, wasit masih digunakan. "Di KU ini banyak anak-anak yang baru belajar tenis. Kalau harus ikut menghitung poin, bisa-bisa mereka malah bingung," kata Sardjono.
Dari segi kepanitiaan, pengurangan penggunaan wasit tidak berpengaruh signifikan pada penghematan dana. Sebab, pertandingan di KU lain masih menggunakan wasit.
"Selain itu, pada babak penyisihan KU 12 dan 14 tahun, kami menyediakan pengawas pertandingan. Jadi, tanpa wasit itu murni untuk tujuan melatih kejujuran. Jika di berbagai sekolah digalakkan kantin kejujuran, kami ikut bergerak melatih kejujuran dari olahraga," ujar Sardjono.
Bentuk karakter
Panitia lain, Istiyono, mengatakan, melatih kejujuran di lapangan tenis merupakan salah satu upaya untuk membentuk karakter anak di kemudian hari. "Dari sekian anak-anak yang ikut kejuaraan ini, paling hanya beberapa saja yang terus aktif di bidang tenis. Selebihnya akan menggeluti berbagai bidang yang apapun itu akan membutuhkan kejujuran," kata Istiyono.
Toh, tujuan mulia belum tentu populer dan mendapat dukungan. Apalagi, belum lazimnya turnamen tanpa wasit akan membuat panitia khawatir. "Tanpa wasit, kami khawatir para orangtua enggan melibatkan anaknya. Tapi, kekhawatiran kami tidak terjadi. Peserta lebih dari 300," kata Istiyono.
Seperti juga cabang olahraga lainnya, pembinaan tenis tidak lepas dari beberapa kasus kecurangan. Kasus yang paling banyak terjadi adalah pencurian umur. Meski tampak tidak berhubungan langsung, pertandingan tanpa wasit menjadi salah satu upaya mengikis berbagai kecurangan dalam pertandingan. Ini memang langkah yang sangat kecil. Namun, bukankah peribahasa menyatakan, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit? (LIS DHANIATI)
Pertandingan tenis tanpa wasit itu khusus untuk kelompok umur 14 tahun dan 16 tahun sedangkan untuk kelompok umur 12 tahun tetap menggunakan wasit pertandingan lengkap dengan ballboy dan penjaga garis.
"Pertandingan tanpa wasit ini sudah direncanakan sejak dua tahun lalu, namun baru 2008 ini dilaksanakan. Tujuannya untuk menanamkan kejujuran dan sportivitas kepada para petenis muda," kata Ketua Panpel Telkom FIKS 2008, Ganjar Nugraha.
Para petenis kelompok umur 14 dan 16 tahun langsung menggelar pertandingan dengan menjadi wasit untuk dirinya sendiri, sedangkan petugas lapangan hanya bertindak sebagai pengawas pertandingan saja.
Sementara itu sejumlah spanduk kejujuran dipasang di sekeliling lapangan antara lain bertuliskan "Junjung Tinggi Kejujuran Sejak Dini", "Fair Play dalam Pertandingan dan Jujur dalam Kehidupan".
"Pertandingan kelompok 12 tahun masih pake wasit karena masih banyak yang belum tahu hitungan dan peraturan pertandingan.
Terobosan pertandingan tanpa wasit itu untuk menanamkan dengan baik pengetahuan mengenai semua aturan permainan kepada petenis muda," kata Ganjar.
Namun demikian, mulai perempat final, pertandingan sudah akan menggunakan wasit dan penjaga garis secara lengkap.
"Mekanisme protes diselesaikan di antara mereka sendiri. Hal ini sudah diterapkan di luar negeri," katanya.
Sementara itu Kejuaraan Tenis KU Telkom FIKS 2008 Flexi Open dibuka oleh Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng dengan jumlah peserta sebanyak 377 atlet yakni KU 12 tahun 160 orang, 14 tahun 125 orang dan 16 tahun 92 orang.
Pertandingan digelar di sebelas lapangan pertandingan yakni di Lapangan Tenis Taman Maluku, Siliwangi Indoor, Bumi Sangkuriang, Cipaganti, Telkom, Kodiklat, Diajenad, Telkom Divre III, Gedung Sate, Pusenif dan Lapangan Tenis Dago Pakar.
Kejuaraan tenis kelompok umur itu akan berlangsung 22 hingga 28 Desember 2008 mendatang. (kpl/cax)INA TENNIS - BANDUNG - Sejarah baru akan ditorehkan dunia tenis nasional. Untuk kali pertama Indonesia akan menggelar turnamen tenis tanpa menggunakan wasit. Regulasi pertandingan tanpa wasit akan diterapkan dalam turnamen tenis yunior Telkom FIK'S 22-27 Desember di Bandung.

Beberapa hal yang harus diperhatian oleh calon peserta kejuaraan TELKOM-FIKS 2008:
Ttd.
Panitia

LOKASI PERTANDINGAN
TELKOM-FIKS 2008
1. KU-12 PUTRA: BUMI SANGKURIANG, CIPAGANTI, TELKOM GEGERKALONG.
2, KU-12 PUTRI: KODIKLAT, DITAJENAD, TELKOM DIVRE III.
3, KU-14 PUTRA: SILIWANGI.
2, KU-14 PUTRI: GEDUNG SATE, PUSSENIF.
5, KU-16 PUTRA: MALUKU.
6, KU-16 PUTRI: DAGO PAKAR.
Enam hari menjelang pembukaan kejuaraan Tenis Junior Nasional TELKOM-FIKS 2008, calon peserta yang telah terdaftar di meja panitia saat ini berjumlah 324 orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah sejalan dengan makin dekatnya hari pelaksaaan pertandingan. Menurut ketua pelaksana kejuaraan, Gandjar Nugraha, biasanya jumlah peserta akan mencapai jumlah pasti beberapa saat menjelang dilakukannya sign in. “Jumlah pasti calon peserta sampai saat ini belum dapat diprediksi, karena calon peserta rata-rata masih melaksanakan ujian semester, tapi begitu memasuki H-2 atau H-1 jumlah pasti calon peserta sudah bisa terlihat”, ujar Gandjar.
Ketika ditanya tentang jumlah peserta yang masih kurang ini berkaitan dengan kemungkinan diterapkannya aturan baru, Gandjar menampiknya. Menurutnya jumlah peserta yang masih dirasa kurang ini semata-mata karena calon peserta sedang melaksanakan ujian semester, jadi tidak ada kaitannya dengan rencana penyelenggara yang akan menerapkan kebijakan baru. Seperti diketahui, untuk kejuaraan tahun ini penyelenggara hanya akan menggunakan wasit untuk memimpin pertandingan setelah babak perempat final. Sebelumnya para pemain harus menghitung sendiri skor dan secara bersama mengatur kelancaran pertandingan yang sedang berlangsung. “Sekali lagi ini semata-mata untuk meningkatkan sportifitas diantara pemain, kapan lagi kita mau belajar jujur? Dan untuk para pemain muda seharusnya upaya ini dilakukan sejak dini”, tambah Gandjar.
Tentang kesiapan penyelenggara dalam menyambut kejuaraan yang sudah menjadi kalender tetap PB PELTI ini, Gandjar menyatakan bahwa secara prinsip kejuaraan tinggal digelar, sampai saat ini tambahnya tidak ada kendala yang secara prinsip menjadi penghalang. “Semua masih berjalan sesuai rencana, bahkan untuk kejuaraan kali ini panitia telah mendapat restu dari ketua PP PELTI, Bu Martina sangat respect dengan kejuaraan ini. Bahkan rencana untuk tidak memakai wasit pun, beliau sangat setuju”, tambah mantan pemain Persib ini.
Lebih lanjut Gandjar menyatakan bahwa sebenarnya pertandingan tanpa melibatkan wasit ini bukan sesuatu yang baru di dunia tenis. Hanya saja di
Rampak Kendang dan Anggelique Wijaya Semarakkan Pembukaan
Untuk menyemarakkan acara pembukaan kejuaraan yang direncanakan berlangsung pada Senin pagi, tanggal 22 Desember 2008 nanti, pihak panitia telah menyiapkan segala sesuatunya dengan optimal. Pembukaan akan dipusatkan di lapangan tenis Taman Maluku Bandung, dan bila tidak ada halangan pembukaan kejuaraan yang telah memasuki tahun ke 16 ini akan dibuka secara resmi oleh pejabat Telkom.
Menurut Gandjar, panitia telah mengundang pengurus pusat PELTI dan Pengda PELTI Jawa Barat untuk hadir pada acara pembukaan ini dan mudah-mudahan acara ini pun bisa dihadiri oleh para pecinta tenis di Bandung.
Selain itu menurut Gandjar, sebagai daya tarik bagi para peserta dan juga pecinta tenis, panitia telah menyiapkan kesenian rampak kendang dari sekolah islam Daarul Hikam